logo logo

The next-generation blog, news, and magazine theme for you to start sharing your stories today!

The Blogzine

Save on Premium Membership

Get the insights report trusted by experts around the globe. Become a Member Today!

View pricing plans

New York, USA (HQ)

750 Sing Sing Rd, Horseheads, NY, 14845

Call: 469-537-2410 (Toll-free)

hello@blogzine.com

IDAH ISTRI MENURUT KHI

avatar
Anjas Badrudin Putra

user kontributor

Kamis, 06 Januari 2022
15:15:18 WIB


  • 2 Views


Keteragan Foto : Syahrudin Penghulu Madya/Kepala KUA Kecamatan Muncang

Syahrudin

Penghulu Madya/Kepala KUA Kecamatan Muncang

A. Dasar Hukum Idah

Pada tulisan terdahulu, penulis membahas tentang "idah" bagi suami. Sekarang akan membahas masalah idah bagi istri menurut KHI.

Dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam), waktu tunggu atau masa idah diatur dalam Bab XVII pasal 153 s.d. pasal 155. Dalam UU No 1 tahun 1974 diatur pasal 11. Dalam PP No 9 tahun 1975 diatur pasal 39.

Pasal 153:

(1) Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qobla al-dukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami.

Ketentuan tersebut didasarkan kepada firman Allah SWT., QS. Al-Ahzab/33:49:"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan mukmin, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa idah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Namun berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya." (Depag RI., Al-Qur'an dan Tafsirnya, jilid 8, 2009:21).

B.   Macam-macam Idah

Macam-macam idah istri menurut KHI, yaitu: idah karena ditinggal mati suami,  idah karena perceraian, idah karena khuluk, fasakh dan li'an, dan idah karena ditalak raj'i kemudian ditinggal mati suami dalam masa idah (A. Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia, 1995:310).

Di bawah ini penulis kemukakan penjelasannya.

1. Idah Karena Ditinggal Mati Suami.

Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qobla al-dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari (ps.153 ayat (2) huruf a.

Ketentuan ini didasarkan kepada firman Allah SWT., QS. Al-Baqarah/2:234:"Dan orang-orang yang mati diantara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari."(Depag RI., Al-Qur'an dan Tafsirnya, jilid 1, 2009:346).

(Lihat, ps.39 ayat (1) huruf a PP No 9 tahun 1975).

Ibrahim Hosen dkk., ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan, kata "yatarabbasna" dalam ayat 234 Al-Baqarah betarti beridah, yaitu perempuan yang ditalak harus menahan diri atau menanti tiga kali suci, baru boleh menikah lagi jika ia ingin menikah lagi (Ibid).

Menurut Vivi Kurniawati, dalam tulisannya "Kupas Habis Hukum Idah Wanita" (2019:11-12), dalam ayat tersebut Allah SWT., menggunakan lafadz "yatarabbasna", dimana lafadz ini kalau dalam Ilmu Ushul Fikih, melihat dari tautan ilmu bahasa Arab, meskipun lafadz menggunakan sighat fi'il mudhari yang memiliki arti khobar (pemberitaan)namun maknanya mengandung lafadz insya' yang artinya sebuah perintah bahwa seorang wanita yang dicerai suaminya hendaknya menahan diri mereka (beridah).

Ketentuan tersebut di atas berlaku bagi istri yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan tidak hamil. Apabila istri tersebut dalam keadaan hamil, maka waktu tunggu bagi mereka adalah sampai melahirkan (Ibid).

Pasal 153 ayat (2) huruf d menerangkan:

(2) Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:

d. Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

Ketentuan tersebut didasarkan kepada firman Allah SWT., QS. Ath-Thalaq/65:4:"... sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya."(Depag RI., Al-Qur'an dan Tafsirnya, jilid 10, 2009:181).

 

 

 

(Lihat, ps.39 ayat (1) huruf c PP No 9 tahun 1975).

Menurut Ibrahim Hosen dkk.,(Ibid), mengenai hal ini ada dua ulama yang berpendapat yang didasarkan pada masa terlama dari dua waktu, yaitu kalau hamil tua dan segera melahirkan maka idahnya 4 bulan 10 hari. Sedang kalau hamil muda idahnya sampai perempuan itu melahirkan.

2.Idah Karena Perceraian

Istri yang dicerai suaminya ada beberapa kemungkinan waktu tunggu, sebagai berikut:

2.1.  Dalam keadaan hamil. Apabila istri dicerai suaminya dalam keadaan hamil, maka idahnya sampai ia melahirkan kandungannya (ps.153). Dasarnya adalah QS. Ath-Thalaq/65:4.

(Lihat, ps.39 ayat (1) huruf c PP No 9 tahun 1975).

2.2. Dalam keadaan tidak hamil:

a. Apabila istri dicerai qobla al-dukhul maka tidak berlaku masa idah baginya (QS. Al-Ahzab/33:49).

b. Apabila ia dicerai suaminya setelah terjadi hubungan kelamin (dukhul):

- bagi yang masih datang bulan, waktu tunggunya ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari (ps.153 ayat (2) huruf b. Dasarnya adalah QS. Al-Baqarah/2:228.

(Lihat, ps.39 ayat (1) PP No 9 tahun 1975).

- bagi tidak atau belum berdatang bulan masa idahnya tiga bulan atau 90 (sembilan puluh) hari (ps.153 ayat (2) huruf b. Dasarnya QS. Ath-Thalaq/65:4.

(Lihat, ps.39 ayat (1) huruf b PP No 9 tahun 1975).

- bagi istri yang pernah haid sedang pada waktu menjalani idah tidak haid karena menyusui, maka idahnya tiga kali waktu suci (ps.153 ayat (5):"Waktu tunggu bagi istri yang pernah haid sedang pada waktu menjalani idah tidak haid karena menyusui, maka idahnya tiga kali waktu haid."

 

 

 

 

- dalam keadaan pada ayat (5) tersebut bukan karena menyusui, maka idahnya selama satu tahun. Akan tetapi bila dalam waktu satu tahun tersebut ia berhaid kembali, maka idahnya menjadi tiga kali suci. Ketentuan ini difahami dari isyarat firman Allah SWT., QS. Al-Baqarah/2:240, meski sesungguhnya ayat ini konserennya bagi istri yang ditinggal mati suaminya:"Dan orang-orang yang akan mati diantara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah membuat wasiat untuk isteri-isterinya (yaitu) nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). Tetapi jika mereka keluar (sendiri) maka tidak ada dosa bagimu (mengenai apa) yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (Depag RI., Al Qur'an dan Tafsirnya, jilid 1, 2009;355).

3. Idah Karena Khuluk, Fasakh Dan Li'an.

Waktu idah janda yang putus perkawinannya karena khuluk (cerai gugat atas dasar tebusan atau iwad dari istri), fasakh (putus perkawinan misalnya karena murtad atau sebab lain yang seharusnya dia tidak dibenarkan kawin), atau li'an, maka waktu tunggu berlaku seperti idah talak (A. Rofiq, op.cit.:316).

4. Idah istrin Ditalak Raj'i Kemudian Ditinggal Mati Suami Dalam Masa Idah.

Apabila istri tertalak raj'i kemudian dalam waktu idah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2 ) huruf b, ayat (5) dan ayat (6) pasal 153, ditinggal mati oleh suaminya maka idahnya berubah menjadi empat bulan sepuluh hari atau 130 (seratus tiga puluh) hari terhitung saat matinya bekas suaminya (Ibid).

Jadi, dalam hal ini, masa idah yang telah dilalui pada saat suaminya masih hidup tidak dihitung, akan tetapi dihitung dari saat kematian. Sebab keberadaan istri yang dicerai selama menjalani masa idah, dianggap masih terikat dalam perkawinan. Karena memang bekas suaminya itulah yang berhak untuk merujuknya selama masih dalam masa idah (Ibid).

C. Demikian hitungan idah istri menurut KHI.

Wallahu a'lam.

 



Share